BOGOR, NALAR.INFO – Setiap pagi, suara anak-anak membaca pelajaran menggema dari sebuah ruang kelas sederhana di Kampung Cijantur, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Tidak ada lantai keramik yang mengilap, tidak ada bangunan megah, bahkan dinding kelas mulai rapuh dimakan usia. Hanya ada satu papan tulis yang dipakai bergantian oleh puluhan siswa.
Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan harapan yang jauh lebih besar daripada bangunan sekolahnya. Harapan itu dijaga oleh seorang guru bernama Zentri Hartanti.
Bagi sebagian orang, menjadi guru mungkin sekadar profesi. Namun bagi Zentri, mengajar adalah panggilan hidup. Ia percaya satu anak yang tetap bersekolah berarti satu anak yang berhasil diselamatkan dari masa depan yang mungkin telah ditentukan oleh tradisi.
Di sekolah kecil bernama SD Negeri Kadusewu Jarak Jauh, tempat ia mengajar sejak 2017, pendidikan bukan hanya soal membaca, menulis, atau berhitung. Pendidikan adalah perjuangan melawan sebuah kebiasaan yang telah berlangsung turun-temurun: pernikahan dini.
Ketika Mimpi Anak Perempuan Berhenti di Usia 13 Tahun
Cijantur hanya berjarak sekitar dua setengah jam dari pusat pemerintahan di Jakarta. Namun, jarak yang dekat itu seolah tak berarti ketika berbicara tentang akses pendidikan dan perubahan pola pikir masyarakat.
Di kampung ini, banyak anak perempuan yang menikah saat usia mereka baru menginjak 13 hingga 15 tahun. Sebagian bahkan dinikahkan setelah mengalami menstruasi pertama.
Sekolah sering kali dianggap tidak terlalu penting. Masih ada orang tua yang beranggapan bahwa perempuan tidak perlu mengejar pendidikan tinggi karena pada akhirnya akan mengurus rumah tangga.
Kalimat seperti, “Ngapain sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya juga ke dapur,” menjadi ungkapan yang terlalu sering didengar Zentri.
Setiap kali mendengar itu, hatinya terasa sesak. Sebab, di hadapannya setiap hari, ia melihat anak-anak yang memiliki rasa ingin tahu luar biasa. Anak-anak yang bercita-cita menjadi dokter, guru, polisi, atau perawat. Mereka memiliki mimpi yang sama seperti anak-anak di kota besar. Yang membedakan hanyalah kesempatan.
Mengajar Bukan Sekadar Berdiri di Depan Kelas
Menjadi guru di Cijantur berarti siap menghadapi berbagai keterbatasan.
Sekolah hanya memiliki empat ruang kelas untuk sekitar 150 siswa. Sarana belajar sangat minim. Saat masih menjadi guru honorer, penghasilan yang diterima Zentri bahkan jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Namun, bukan itu tantangan terbesarnya. Tantangan terbesar adalah mengubah cara pandang masyarakat. Ia harus meyakinkan para orang tua bahwa pendidikan bukan pemborosan waktu, melainkan investasi masa depan.
Ia terus mengulang pesan yang sama dalam setiap rapat sekolah maupun pertemuan warga.
“Pendidikan sekarang penting, Bu, Pak. Kalau mau cari kerja, anak-anak harus punya ijazah. Harus punya keahlian supaya bisa mengubah kehidupan.”
Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa. Tetapi di Cijantur, kalimat itu adalah bentuk perlawanan terhadap budaya yang telah mengakar selama puluhan tahun.
Perjuangan Zentri tidak dimulai ketika bel sekolah berbunyi. Setiap hari ia harus menempuh perjalanan sekitar 16 kilometer pulang-pergi dari rumahnya di pinggiran Kota Bogor menuju sekolah.
Jalan yang dilalui bukan jalan beraspal mulus. Ia harus melewati jalan berbatu, kebun yang gelap tanpa penerangan, hingga jalan berlumpur yang nyaris tak bisa dilalui saat musim hujan.
Tak jarang motor bebek yang dikendarainya harus berhenti karena jalan terlalu licin. Ketika itu terjadi, ia memilih melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh delapan kilometer.
Semua itu dilakukan demi memastikan murid-muridnya tidak kehilangan satu hari pelajaran. Karena ia tahu, satu hari yang hilang bisa menjadi awal dari seorang anak berhenti sekolah.
Memutus Rantai Pernikahan Dini Lewat Pendidikan
Bagi Zentri, pernikahan dini bukan sekadar persoalan usia. Ia melihat sendiri bagaimana banyak remaja kehilangan kesempatan melanjutkan sekolah, mengalami perceraian di usia muda, hingga menghadapi risiko kesehatan saat hamil sebelum tubuh mereka siap.
Anak-anak yang seharusnya masih bermain dan belajar, mendadak harus menjadi istri, bahkan ibu.
“Mereka belum siap menjadi ibu, tapi sudah harus mengasuh anak,” katanya.
Karena itulah, ia tak pernah lelah bekerja sama dengan kepala desa, guru lain, hingga petugas BKKBN untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya pendidikan dan bahaya pernikahan dini.
Ia sadar, perubahan tidak akan terjadi dalam semalam. Tetapi ia percaya setiap percakapan yang dilakukan hari ini akan menjadi benih perubahan di masa depan.
Bertahun-tahun perjuangannya akhirnya mulai menunjukkan hasil. Jika dahulu hampir semua anak perempuan berhenti sekolah setelah lulus SD, kini semakin banyak yang melanjutkan ke SMP bahkan SMA. Beberapa di antaranya bahkan berhasil memperoleh kesempatan belajar di yayasan di Jakarta sambil mondok.
Perubahan itu mungkin belum besar. Namun bagi Zentri, satu anak yang berhasil melanjutkan sekolah adalah kemenangan.
“Alhamdulillah sekarang orang tua mulai senang melihat anak-anaknya sekolah. Meski masih ada yang menikah di bawah usia 17 tahun, jumlahnya sudah jauh berkurang,” tuturnya dengan mata berbinar.
Senyum itu bukan karena dirinya merasa berhasil. Melainkan karena ia melihat harapan mulai tumbuh di tempat yang dulu hampir kehilangan harapan.
Pahlawan Tak Selalu Berdiri di Atas Panggung
Kisah Zentri Hartanti mengingatkan bahwa pahlawan tidak selalu mengenakan seragam resmi atau berdiri di depan sorotan kamera.
Kadang, mereka berdiri di ruang kelas yang hampir roboh. Menghapus papan tulis yang mulai kusam. Mengulang pelajaran kepada murid yang datang tanpa sepatu.
Lalu pulang melewati jalan berlumpur dengan keyakinan bahwa pendidikan mampu mengubah kehidupan. Di tengah segala keterbatasan, Zentri memilih tetap bertahan. Karena baginya, setiap anak berhak bermimpi.
Dan selama masih ada guru yang rela berjalan berkilometer demi mengajar, selalu ada harapan bahwa rantai kemiskinan, kebodohan, dan pernikahan dini dapat diputus.
Di sudut kecil Kabupaten Bogor itu, satu papan tulis tua telah menjadi simbol perjuangan.
Sementara seorang guru sederhana telah membuktikan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Kadang, perubahan lahir dari seseorang yang memilih untuk tidak menyerah, seperti Zentri Hartanti.

Jurnalis di Nalar, Media Berbasis Data, Argumen dan Nalar









