NALAR.INFO – Pemberitaan yang disajikan oleh Tempo terkait Partai NasDem menuai tanggapan kritis. Sejumlah pihak menilai framing yang digunakan cenderung berlebihan dan tidak mencerminkan realitas politik internal partai.
Anggota DPR RI dari NasDem, Asep Wahyuwijaya, menyatakan bahwa pemberitaan tersebut berpotensi merendahkan rakyat yang telah memberikan mandat kepada NasDem melalui pemilu. Ia menilai penyederhanaan narasi yang menyamakan partai politik dengan entitas bisnis tidak tepat.
“Partai politik tidak bisa disamakan dengan perusahaan. Ada nilai, ideologi, dan amanat rakyat yang harus dijaga,” ujar Asep dalam keterangannya.
Ia juga menegaskan bahwa Ketua Umum NasDem, Surya Paloh, tidak mungkin mengambil langkah gegabah dalam menentukan arah partai. Menurutnya, NasDem didirikan dengan tujuan besar untuk mendorong perubahan dan kemajuan bangsa.
Saat ini, lanjut Asep, NasDem memiliki basis pemilih belasan juta orang, jutaan kader, serta ribuan anggota legislatif di berbagai tingkatan. Hal tersebut menunjukkan bahwa partai telah berkembang menjadi representasi publik yang tidak bisa dipandang secara sempit.
Terkait dinamika politik nasional, politisi kelahiran Kabupaten Bogor ini menilai hubungan antara NasDem dan Partai Gerindra lebih tepat diposisikan sebagai aliansi strategis daripada sekadar koalisi. Menurutnya, aliansi strategis mencerminkan kerja sama berbasis visi dan komitmen terhadap kepentingan bangsa, bukan semata pembagian kekuasaan.
Ia menambahkan bahwa NasDem tetap menunjukkan sikap politik yang konstruktif dengan mendukung pemerintahan Prabowo Subianto.
“Arahan Ketua Umum jelas, seluruh kader dan anggota legislatif diminta mendukung pemerintah demi kepentingan nasional,” kata dia.
Asep menilai pendekatan tersebut mencerminkan etika politik yang mengedepankan tanggung jawab dan kedewasaan dalam berdemokrasi. Ia berharap ke depan pola hubungan politik berbasis aliansi strategis dapat semakin diperkuat untuk menghasilkan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.

Editor Nalar, sebuah media yang berfokus pada kekuatan data, ketajaman argumen, dan kejernihan nalar.








