NALAR.INFO ─ Kanselir Jerman, Friedrich Merz, melontarkan kritik tajam terhadap Amerika Serikat dengan menyebut negara itu sedang “dipermalukan” oleh kepemimpinan Iran dalam proses negosiasi yang buntu. Pernyataan ini memperlihatkan ketegangan baru dalam hubungan transatlantik, sekaligus menyoroti dinamika diplomasi yang semakin kompleks di Timur Tengah.

Komentar Merz muncul setelah pemerintahan Donald Trump membatalkan rencana pertemuan lanjutan dengan delegasi Iran di Islamabad. Sebelumnya, upaya diplomasi yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance juga berakhir tanpa hasil berarti.
Berbicara di hadapan mahasiswa di Marsberg, Merz menilai Iran justru lebih lihai dalam memainkan strategi negosiasi.

“Iran sangat terampil, atau lebih tepatnya sangat terampil untuk tidak bernegosiasi,” ujarnya, seperti dilaporkan The Guardian Akhir Bulan April lalu.

Ia menambahkan bahwa situasi ini membuat AS terlihat lemah di panggung internasional, terutama di hadapan aktor-aktor seperti Garda Revolusi Iran.

Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan sikap Trump yang sebelumnya menyatakan optimisme. Dalam wawancara media, Trump mengklaim bahwa AS “memegang semua kartu” dan menyebut Iran bisa datang kapan saja jika ingin berunding.

Strategi “Hormuz First” Iran, Tekanan Ekonomi dan Manuver Global

Di tengah kebuntuan, Iran mengajukan proposal baru yang berfokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan energi global. Proposal ini menunda pembahasan isu sensitif seperti program nuklir, rudal, dan sanksi ekonomi.

Namun, pendekatan ini mendapat penolakan dari berbagai pihak. International Maritime Organization menegaskan tidak ada dasar hukum untuk mengenakan biaya pada kapal yang melintasi selat internasional. Sementara itu, diplomat Barat menilai strategi tersebut tidak akan memenuhi tujuan utama Washington, yakni menghentikan program nuklir Iran secara permanen.

Blokade yang diberlakukan AS telah memperburuk krisis ekonomi Iran. International Monetary Fund memperkirakan ekonomi Iran akan menyusut lebih dari 6% tahun ini, dengan inflasi mendekati 70%. Meski demikian, para analis menilai tekanan ekonomi belum tentu memaksa Teheran untuk menyerah.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, bahkan melakukan kunjungan ke Moskow untuk mencari dukungan dari Rusia. Presiden Vladimir Putin disebut siap membantu Iran dalam menghadapi tekanan Barat, baik secara ekonomi maupun strategis.

Risiko Geopolitik Global dan Dilema Amerika

Pengamat menilai situasi ini berpotensi memperburuk ketegangan global. Iran masih memiliki cadangan uranium yang cukup untuk pengembangan senjata nuklir, sementara konflik regional juga terus memanas.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahkan mengisyaratkan kemungkinan aksi militer baru terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon, yang didukung Iran.

Kondisi ini menempatkan Trump dalam posisi sulit. Di satu sisi, ia menghadapi tekanan domestik akibat kenaikan harga energi dan inflasi. Di sisi lain, ia perlu menunjukkan keberhasilan diplomatik di panggung global.

Jika AS menerima proposal Iran terkait Selat Hormuz, Trump mungkin dapat mengklaim kemenangan jangka pendek. Namun, langkah tersebut berisiko membiarkan isu nuklir Iran tetap menggantung—sebuah konsekuensi yang bisa berdampak besar bagi stabilitas global.