WASHINGTON, NALAR.INFO — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump balik menuntut Iran membayar kompensasi atas korban jiwa dan kerusakan yang menurutnya disebabkan oleh aktivitas Teheran selama puluhan tahun.
Tuntutan tersebut disampaikan Trump melalui platform Truth Social pada Senin (10/8), setelah Iran meminta kompensasi kepada AS atas kerusakan akibat konflik yang telah berlangsung selama lima bulan.
Iran sebelumnya menjadikan pembayaran kompensasi perang sebagai salah satu syarat untuk membuka kembali lalu lintas pelayaran secara penuh di Selat Hormuz. Selain kompensasi, Teheran juga menuntut penghentian operasi dan ancaman militer AS, pencabutan sanksi, serta pelepasan aset Iran yang dibekukan.
Trump kemudian mengatakan dirinya telah menginstruksikan para perwakilan AS untuk memasukkan tuntutan kompensasi dari Iran dalam setiap perundingan berikutnya.
“Sekarang saya juga menuntut kompensasi dari Iran,” kata Trump dalam pernyataannya di Truth Social, sebagaimana dilaporkan Reuters.
Trump Singgung Korban USS Cole
Dalam tuntutannya, Trump menyebut keluarga korban serangan terhadap kapal perang AS USS Cole pada 2000 sebagai salah satu pihak yang menurutnya layak mendapatkan kompensasi.
Serangan terhadap USS Cole terjadi pada Oktober 2000 di pelabuhan Aden, Yaman. Ledakan tersebut menewaskan 17 personel Angkatan Laut AS dan melukai lebih dari 30 orang.
Namun, terdapat catatan penting mengenai klaim tersebut. Berdasarkan laporan Reuters, Biro Investigasi Federal (FBI) mengaitkan serangan USS Cole dengan jaringan Al-Qaeda, bukan secara langsung dengan pemerintah Iran.
Trump juga menyinggung berbagai konflik dan aksi kekerasan yang menurutnya melibatkan Iran, termasuk aktivitas kelompok yang didukung Teheran di kawasan Timur Tengah.
Ia menyebut Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza sebagai wilayah yang menurutnya mengalami korban jiwa dan kerusakan akibat aktivitas Iran.
Trump juga menuntut kompensasi bagi keluarga korban demonstrasi di Iran. Dalam pernyataannya, ia membuat klaim mengenai jumlah korban yang sangat besar selama lima dekade terakhir.
Selain itu, Trump menyebut sekitar 52.000 orang tewas dalam lima bulan terakhir. Klaim-klaim mengenai jumlah korban tersebut merupakan pernyataan Trump dan perlu dibedakan dari angka yang telah diverifikasi secara independen.
Iran Sebelumnya Minta Kompensasi dari AS
Tuntutan balasan Trump muncul setelah Iran meminta kompensasi kepada AS atas kerusakan yang dialami selama konflik yang berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Teheran memasukkan pembayaran kompensasi sebagai salah satu persyaratan untuk membuka kembali Selat Hormuz secara penuh.
Iran juga menuntut Washington menghentikan operasi dan ancaman militer, mencabut sanksi terhadap Iran, serta membebaskan aset Iran yang saat ini dibekukan.
Situasi tersebut semakin memperumit upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik dan memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.
Iran dan Oman Dekati Kesepakatan Jalur Pelayaran
Di tengah ketegangan dengan AS, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada Sabtu (8/8) mengatakan Iran dan Oman telah mendekati kesepakatan mengenai jalur pelayaran baru melalui Selat Hormuz.
Namun, kesepakatan dengan Oman tersebut tidak otomatis berarti Selat Hormuz akan kembali dibuka sepenuhnya.
Iran menegaskan bahwa pembukaan penuh jalur tersebut masih bergantung pada sejumlah tuntutan yang ditujukan kepada AS. Reuters melaporkan bahwa Teheran meminta kompensasi, penghentian ancaman militer, pencabutan sanksi, serta langkah terkait blokade terhadap pelabuhan Iran.
Trump: Tuntutan Iran Tidak Pernah Dibahas
Trump mengatakan tuntutan kompensasi dari Iran sebelumnya tidak pernah dibahas dalam perundingan maupun pertemuan antara kedua pihak.
Meski demikian, Trump menyebut permintaan tersebut sebagai sebuah “ide menarik” sebelum kemudian mengajukan tuntutan kompensasi balasan kepada Teheran.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa isu kompensasi berpotensi menjadi salah satu hambatan baru dalam perundingan AS-Iran.
Harapan tercapainya kesepakatan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz juga semakin menghadapi ketidakpastian. Reuters melaporkan bahwa perkembangan terbaru tersebut membuat prospek kesepakatan dalam waktu dekat menjadi semakin suram.
Trump Belum Pastikan Ada Kesempatan Terakhir
Trump juga belum memberikan kepastian apakah Iran masih memiliki kesempatan untuk mencapai kesepakatan dengan AS.
Ketika ditanya apakah putaran perundingan terakhir menjadi kesempatan terakhir bagi Iran sebelum AS melancarkan serangan besar-besaran, Trump memberikan jawaban singkat.
“Anda akan tahu,” jawab Trump.
Ia kemudian mengatakan bahwa AS memiliki kemampuan untuk melakukan serangan besar-besaran jika Washington memutuskan untuk mengambil langkah tersebut.
Pernyataan itu kembali meningkatkan kekhawatiran mengenai kemungkinan eskalasi militer di kawasan Timur Tengah, terutama ketika perundingan mengenai masa depan Selat Hormuz masih berlangsung.
Dengan tuntutan kompensasi yang kini diajukan oleh kedua belah pihak, negosiasi AS-Iran menghadapi persoalan baru. Selain isu nuklir dan keamanan, kompensasi perang, sanksi, serta akses pelayaran di Selat Hormuz kini menjadi bagian penting dari tarik-menarik kepentingan kedua negara.

Jurnalis di Nalar, Media Berbasis Data, Argumen dan Nalar









