BOGOR, NALAR.INFO — Aktivis muda Mohammad Bifa Agusriyanto mengaku mengalami gangguan akses pada akun WhatsApp pribadinya menjelang tampil sebagai pembicara dalam Simposium Kebangsaan UMARA 2026 yang diselenggarakan oleh BEM Universitas Muhammadiyah Bogor Raya.
Kegiatan yang mengusung tema “Menarasikan Ulang Arah Negara di Tengah Krisis Kepercayaan Publik” tersebut berlangsung di Bogor dan dihadiri ratusan mahasiswa serta elemen pemuda dari berbagai daerah.
Meski sempat menghadapi kendala teknis pada akun komunikasinya, Bifa tetap hadir dan menyampaikan pandangannya terkait dinamika kebangsaan, terutama soal tantangan demokrasi dan kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Dalam forum tersebut, Bifa menyoroti pentingnya pembenahan sistem politik sebagai langkah awal untuk memperkuat kembali arah demokrasi di Indonesia. Menurutnya, partai politik sebagai pilar utama demokrasi perlu terus didorong untuk memperkuat mekanisme kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan.
“Demokratisasi negara harus dimulai dari akarnya. Salah satunya dengan memastikan partai politik memiliki sistem yang sehat, terbuka, dan memberi ruang regenerasi kepemimpinan,” ujar Bifa.
Ia juga menegaskan bahwa ruang-ruang dialog seperti simposium kebangsaan harus terus dijaga sebagai wadah pertukaran gagasan yang konstruktif, khususnya bagi kalangan muda dan mahasiswa.
Di akhir pemaparannya, Bifa mengajak mahasiswa untuk tetap aktif berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi melalui pemikiran kritis, diskusi terbuka, serta kontribusi nyata dalam pembangunan bangsa.
Simposium Kebangsaan yang digelar oleh BEM UMARA ini menjadi salah satu ruang refleksi bagi mahasiswa untuk membahas arah perjalanan bangsa di tengah berbagai tantangan sosial, politik, dan ekonomi yang berkembang saat ini.

Jurnalis di Nalar, Media Berbasis Data, Argumen dan Nalar









