BOGOR, NALAR.INFO ─ Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bogor mengungkap masih terdapat sembilan perlintasan kereta api sebidang tanpa palang pintu di wilayah Kabupaten Bogor. Sebagian besar titik berada di kawasan Parung Panjang dan Cigombong.

Kepala Seksi Jaringan Transportasi Dishub Kabupaten Bogor, Herdi Sukriadi, mengatakan perlintasan tanpa pengaman tersebut mayoritas berada di jalan berstatus milik kabupaten.

“Total perlintasan sebidang di jalan kabupaten ada 13 titik. Dari jumlah itu, sembilan titik belum memiliki palang pintu,” ujar Herdi saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (28/04).

Ia menjelaskan, jalur kereta di Kabupaten Bogor terbagi ke dalam empat trase utama, yaitu lintas Bogor–Jakarta, Bogor–Sukabumi, Parung Panjang–Rangkas Bitung, serta Citayem–Nambo. Dari seluruh jalur tersebut, kawasan Parung Panjang tercatat memiliki jumlah perlintasan tanpa palang pintu paling banyak.

Menurut Herdi, sebagian besar lokasi tersebut merupakan akses umum yang digunakan masyarakat setiap hari. Karena berada di jalan kabupaten, penanganan dan pengawasan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.

Sementara itu, untuk perlintasan yang berada di jalan nasional maupun provinsi, kewenangannya berada di pemerintah pusat dan pemerintah provinsi.

Dishub juga mencatat beberapa titik memiliki tingkat kepadatan kendaraan cukup tinggi, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja. Kondisi itu dinilai berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan apabila pengguna jalan tidak berhati-hati.

“Wilayah yang cukup padat itu di Parung Panjang, terutama pagi hari. Selain itu ada juga di Bojonggede karena menjadi akses menuju stasiun,” kata Herdi.

Sebagai langkah antisipasi, Dishub Kabupaten Bogor mengusulkan relokasi sejumlah fasilitas palang pintu ke titik yang dinilai lebih membutuhkan. Saat ini terdapat tiga lokasi yang diajukan, yakni Tenjo, Cigombong, dan Batutulis.

Herdi menambahkan proses relokasi masih menunggu persetujuan dari pemerintah pusat. Salah satu alasan relokasi dilakukan karena adanya pembangunan flyover di kawasan Tenjo sehingga fasilitas pengaman di titik tersebut tidak lagi digunakan secara maksimal.

“Kami sudah mengusulkan relokasi ke kementerian. Ada tiga titik yang direncanakan, tetapi saat ini masih menunggu keputusan dari pusat,” tandasnya.