NALAR.INFO – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mengungkapkan bahwa struktur ekspor kelapa sawit Indonesia mengalami perubahan signifikan. Saat ini, lebih dari 80 persen ekspor sawit nasional telah berbentuk produk hilir atau produk olahan, bukan lagi crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah.
Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum BPDP, Zaid Burhan Ibrahim, mengatakan transformasi tersebut menjadi indikator keberhasilan kebijakan hilirisasi yang selama ini didorong pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah industri sawit nasional.
“Struktur ekspor sawit Indonesia juga telah mengalami perubahan yang positif. Lebih dari 80 persen ekspor sawit Indonesia sudah berbentuk produk hilir, bukan lagi minyak mentah. Hal ini menunjukkan bahwa hilirisasi mulai memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi industri nasional,” kata Zaid dalam kunjungan kerja bertema *Exploring the Future of Sustainable Palm Oil: From Research to Plantation Excellence* di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu (29/07).
Menurut Zaid, industri kelapa sawit masih menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia dengan nilai ekspor yang mencapai lebih dari 20 miliar dollar AS setiap tahunnya.
Ia menjelaskan, hilirisasi sawit kini telah berkembang ke berbagai sektor industri. Pada sektor pangan dan farmasi, minyak sawit diolah menjadi berbagai produk seperti minyak goreng, margarin, roti, hingga vitamin A dan vitamin E.
Sementara itu, di sektor oleokimia, kelapa sawit dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan sabun, detergen, kosmetik, produk make up, hingga skincare.
Adapun di sektor energi, hilirisasi menghasilkan berbagai jenis bahan bakar nabati, mulai dari biodiesel, avtur berbasis sawit, hingga bensin sawit. Selain itu, limbah sawit juga dimanfaatkan menjadi biomassa yang diolah menjadi pakan ternak, produk kerajinan, serta bioetanol.
Zaid menambahkan, kontribusi industri sawit tidak hanya terlihat dari sisi ekspor, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat.
Berdasarkan data BPDP, sekitar 41 persen dari total perkebunan kelapa sawit nasional saat ini dikelola oleh masyarakat.
“Kalau kita lihat dari ujung Sumatra sampai ke timur, itu ada semua. Dari Sumatra Utara, Aceh, Jambi, Riau, Palembang, Kalimantan, Sulawesi, itu ada semua,” ujarnya.
Selain itu, sektor sawit juga menjadi sumber mata pencaharian bagi sekitar 16,5 juta tenaga kerja. Sebanyak 9,7 juta orang bekerja secara langsung di sektor perkebunan, yang terdiri atas 5,2 juta tenaga kerja di perkebunan rakyat dan 4,5 juta karyawan perusahaan perkebunan.
Sementara sekitar 8 juta tenaga kerja lainnya bekerja secara tidak langsung di sektor pendukung, mulai dari jasa pengangkutan tandan buah segar (TBS) dan CPO, penyedia pupuk dan alat perkebunan, hingga berbagai layanan penunjang industri.
Menurut Zaid, keberadaan industri sawit turut mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah sentra perkebunan melalui pembangunan infrastruktur, tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru, berkembangnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta meningkatnya produk domestik regional bruto (PDRB) dan pendapatan daerah.
Ia menegaskan, hilirisasi sawit diharapkan terus diperkuat agar manfaat ekonomi yang dihasilkan semakin besar sekaligus meningkatkan daya saing industri sawit Indonesia di pasar global.

Jurnalis di Nalar, Media Berbasis Data, Argumen dan Nalar









