NALAR.INFO – Perpustakaan Jakarta terus memperkuat perannya sebagai ruang publik yang inklusif dan modern. Tingginya antusiasme masyarakat pada gelaran Night at the Library (NATL) dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-4 Perpustakaan Jakarta menjadi bukti meningkatnya minat warga terhadap budaya literasi.

Kegiatan yang berlangsung di Perpustakaan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pada Jumat malam itu langsung dipenuhi peserta. Seluruh kuota sebanyak 800 orang habis hanya dalam waktu singkat setelah pendaftaran dibuka.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Provinsi DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono, mengatakan ekosistem literasi di Jakarta terus mengalami perkembangan. Menurutnya, perpustakaan kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi juga menjadi ruang publik untuk berinteraksi dan berkolaborasi.

“Ekosistem literasi di Jakarta terus berkembang. Perpustakaan kini tak lagi sekadar menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang berkumpul, berdiskusi, berkarya, dan membangun jejaring sosial,” ujar Nasruddin.

Ia berharap Perpustakaan Jakarta dapat terus menjadi inovasi layanan yang menghadirkan konsep third place atau ruang ketiga, yakni ruang yang nyaman bagi masyarakat di luar rumah dan tempat kerja.

Nasruddin menjelaskan, peringatan HUT ke-4 Perpustakaan Jakarta yang jatuh pada 7 Juli 2026 bertepatan dengan peluncuran Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang, yang telah diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.

Menurutnya, perpustakaan baru tersebut mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Bahkan, Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang mampu menarik sekitar 1.000 pengunjung setiap hari sejak dibuka.

“Ini merupakan pencapaian yang luar biasa dan menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Jakarta terus meningkat,” katanya.

Data Dispusip DKI Jakarta mencatat, selama Semester I 2026, Perpustakaan Jakarta menerima 320.352 kunjungan, atau rata-rata sekitar 13 ribu pengunjung setiap pekan. Sementara itu, sejak kembali dibuka hingga memasuki usia empat tahun, jumlah kunjungan telah mencapai sekitar 1,96 juta orang.

Nasruddin menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan semakin diterima sebagai ruang publik yang hidup dan menjadi pusat aktivitas masyarakat.

“Angka ini menunjukkan bahwa perpustakaan semakin diterima sebagai ruang publik yang hidup, tempat masyarakat belajar, berdiskusi, berkarya, dan membangun jejaring,” ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan budaya literasi menjadi bagian penting dalam menyongsong 500 tahun Kota Jakarta. Menurutnya, pembangunan kota tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui penyediaan ruang-ruang literasi yang terbuka, nyaman, dan inklusif.

Senada dengan itu, Kepala Unit Pengelola Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra H.B. Jassin, Diki Lukman Hakim, mengatakan transformasi layanan perpustakaan terus dilakukan untuk memperkuat fungsinya sebagai ruang ketiga bagi masyarakat.

“Kami berharap transformasi layanan ini dapat memantapkan peran Perpustakaan Jakarta sebagai ruang ketiga, tempat interaksi sosial yang inklusif, nyaman, dan hidup di luar rumah serta tempat kerja,” katanya.

Sementara itu, Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Ali Maulana Hakim, mengapresiasi berbagai inovasi layanan yang dilakukan Dispusip DKI Jakarta. Menurutnya, perpustakaan kini telah berkembang menjadi ruang publik yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat untuk belajar, berdiskusi, dan mengembangkan kreativitas.

Ali menilai makna literasi saat ini tidak lagi terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, meningkatkan keterampilan, serta membangun daya saing masyarakat.

“Kami berharap program seperti Night at the Library terus digelar agar Perpustakaan Jakarta semakin menjadi pusat literasi, kreativitas, pengembangan sumber daya manusia, sekaligus ruang kolaborasi yang memperkuat interaksi sosial masyarakat Jakarta,” tuturnya.

Melalui berbagai inovasi layanan dan tingginya partisipasi masyarakat, Perpustakaan Jakarta dinilai semakin mengukuhkan posisinya sebagai pusat literasi sekaligus ruang publik yang mendukung terbentuknya masyarakat yang lebih kreatif, inklusif, dan berdaya saing.