NALAR.INFO — Standard Chartered mengumumkan rencana pemangkasan sekitar 7.800 pekerjaan hingga tahun 2030 seiring meningkatnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam operasional perusahaan.

Bank yang berbasis di London itu menyatakan akan mengurangi sekitar 15 persen posisi back-office dari total lebih dari 52.000 pekerja di divisi tersebut. Langkah tersebut menjadi salah satu pengurangan tenaga kerja terbesar yang secara langsung dikaitkan dengan penggunaan AI di sektor perbankan global.

CEO Standard Chartered, Bill Winters, mengatakan otomatisasi dan adopsi AI akan menjadi faktor utama dalam proses efisiensi perusahaan.

“Ini bukan sekadar pemotongan biaya. Dalam beberapa kasus, kami mengganti pekerjaan bernilai rendah dengan investasi teknologi dan modal,” kata Winters, seperti dikutip The Guardian, Selasa (19/05).

Menurut perusahaan, posisi yang paling terdampak berada di pusat operasional back-office di Chennai dan Bengaluru, India, Kuala Lumpur, Malaysia, serta Warsawa, Polandia.

Standard Chartered saat ini memiliki hampir 82.000 karyawan di seluruh dunia. Meski demikian, Winters menyebut sebagian pegawai akan dialihkan ke posisi baru melalui program pelatihan ulang.

Langkah efisiensi tersebut dilakukan di tengah meningkatnya penggunaan AI di industri keuangan global. Banyak bank besar mulai mengintegrasikan teknologi AI untuk meningkatkan produktivitas dan menekan biaya operasional.

Riset dari Morgan Stanley sebelumnya memperkirakan lebih dari 200.000 pekerjaan sektor perbankan di Eropa berisiko terdampak AI hingga 2030.

Selain fokus pada transformasi digital, Standard Chartered juga menghadapi tantangan ketidakpastian geopolitik global. Bank yang memiliki fokus bisnis di Asia-Pasifik dan Afrika itu telah menyisihkan dana cadangan sebesar 190 juta dolar AS terkait konflik Timur Tengah pada kuartal pertama tahun ini.

Meski demikian, Winters menegaskan perusahaan tetap optimistis terhadap target pertumbuhan bisnis ke depan.