NALAR.INFO – Warganet ramai mengulik kembali sejumlah cuitan lama akun resmi Partai Gerindra di media sosial seiring melemahnya nilai tukar rupiah yang disebut telah menembus Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS). Berbagai unggahan lama tersebut kembali beredar luas dan memicu perbincangan di jagat maya.

Netizen membagikan ulang sejumlah kritik tajam yang pernah disampaikan Partai Gerindra ketika masih berada di luar pemerintahan. Cuitan-cuitan yang diunggah pada periode 2011 hingga 2018 itu banyak menyoroti persoalan ekonomi nasional, mulai dari nilai tukar rupiah, utang negara, hingga tingkat kesejahteraan masyarakat.

Salah satu unggahan yang paling banyak dibagikan kembali adalah cuitan tahun 2018 ketika nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp14.000 per dolar AS. Dalam unggahan tersebut, Gerindra menilai pelemahan rupiah sebagai indikasi kegagalan pemerintah dalam mengelola perekonomian.

Kini, ketika nilai tukar rupiah mengalami pelemahan lebih dalam, warganet membandingkan sikap kritis Gerindra pada masa lalu dengan posisinya saat ini sebagai bagian dari pemerintahan.

Fenomena tersebut menjadi viral karena nilai tukar rupiah disebut mengalami pelemahan tajam dari kisaran Rp16.000 menjadi Rp18.000 per dolar AS hanya dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut memicu berbagai reaksi dari masyarakat di media sosial.

Sejumlah pengguna internet memanfaatkan jejak digital akun resmi Partai Gerindra untuk mengingatkan kembali pernyataan-pernyataan yang pernah disampaikan partai tersebut. Mereka juga menagih janji serta solusi terhadap persoalan ekonomi yang saat ini dihadapi masyarakat.

Aksi saling membagikan ulang cuitan lawas tersebut pun menjadi salah satu topik yang ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial. Hingga kini, tangkapan layar unggahan lama Partai Gerindra terus beredar dan menuai beragam respons dari warganet.

Perbincangan tersebut menunjukkan bahwa jejak digital di media sosial dapat kembali menjadi sorotan publik, terutama ketika terjadi perubahan situasi politik maupun kondisi ekonomi nasional.