KEDIRI, NALAR.INFO — Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, mengancam akan mencabut izin operasional penyedia layanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyusul dugaan keracunan yang menimpa sejumlah siswa di Kabupaten Kediri.

Langkah tegas itu disampaikan setelah enam siswa harus mendapatkan perawatan medis usai mengonsumsi makanan dari program MBG. Dari jumlah tersebut, satu siswa telah diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan, sementara lima siswa lainnya masih dirawat karena kadar leukosit dalam tubuh masih tinggi.

Bupati yang akrab disapa Mas Dhito mengatakan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional serta menghentikan sementara layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem.

Selain itu, sampel sisa makanan juga telah dikirim ke laboratorium guna mengetahui penyebab dugaan keracunan tersebut.

“Kalau dari hasil lab ternyata masih ada kandungan yang tidak baik, SPPG-nya belum boleh beroperasi,” ujar Mas Dhito dalam keterangan tertulis, Rabu (29/04).

Pernyataan itu disampaikan usai Mas Dhito membesuk para siswa yang menjalani perawatan di RSUD Simpang Lima Gumul.

Mas Dhito menegaskan, Pemkab Kediri akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan program MBG di wilayahnya. Jika ditemukan pelanggaran terhadap standar operasional prosedur (SOP) maupun persyaratan kebersihan, maka pemerintah daerah tidak segan mencabut Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) milik penyedia layanan.

“Kalau tidak memenuhi itu (SLHS), ya kami cabut. Ini kasus pertama di kabupaten dan harapannya tidak ada lagi,” tegasnya.

Untuk mencegah kejadian serupa terulang, Pemkab Kediri melalui Dinas Pendidikan meminta seluruh sekolah melakukan pengecekan makanan dari SPPG sebelum dikonsumsi siswa.

Pengecekan tersebut diharapkan diterapkan di seluruh sekolah, baik negeri, swasta, maupun sekolah di bawah naungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kediri.

Menurut Mas Dhito, langkah itu penting mengingat makanan diproduksi pada pagi hari namun baru dikonsumsi saat siang hari. Kondisi wadah makanan yang tertutup rapat dinilai berpotensi menimbulkan risiko apabila kualitas makanan tidak terjaga dengan baik.

“Kemarin gurunya sebenarnya sudah mencicipi, cuma sudah ada beberapa makanan yang telanjur didistribusikan ke anak-anak,” pungkasnya.